Sabtu, 11 Juni 2011

Agitasi dan Propaganda

Pengantar
Agitasi dan Propaganda


I. Pengertian Dasar
Sebagai seorang Aktivis Gerakan kita sering mendengar kata-kata agitasi atau propaganda. Apakah maksud dari kedua kata tersebut ? Untuk apa kita mengetahui dan mempelajarinya ?
Agitasi dalam perspektif gerakan dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan pembongkaran atau pemblejetan permasalahan yang dialami oleh rakyat yang seringkali diselubungi oleh pihak yang berkuasa. Menurut kamus Oxford, mengagitasi berarti “membangkitkan perhatian (to excite) atau mendorong (stir it up)”. Jadi Agitasi bertujuan untuk mendorong kesadaran seseorang atau kelompok tentang suatu permasalahan.
Kata Propaganda berasal dari bahasa latin propagare, artinya cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman kesebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Jadi propaganda dapat didefiniskan sebagai “sebuah usaha yang terencana/tersistimatis untuk penyebarluasan suatu keyakinan atau doktrin.” Propaganda bersifat arahan atau solusi, ia biasanya mengandung 2 (dua) hal, pertama: penyebab pokok permasalahan-permasalahan yang terjadi dimasyarakat, kedua: bagaimana permasalahan harusnya diselesaikan.
Dalam bergerak menuju suatu perubahan yang dicita-citakan organisasi gerakan memerlukan dukungan seluas-luasnya dari mayoritas rakyat, ini menjadikan Agitasi dan Propaganda alat yang sangat penting (kalau bukan yang terpenting) dari organisasi itu sendiri. Agitasi saja tanpa suatu arahan Propaganda hanya akan melahirkan anarkisme. Jadi sangat penting bagi kita untuk dapat merumuskan arahan tersebut.

II. Prinsip-prinsip Agitasi dan Propaganda yang Revolusioner
Selain daripada efek positif maka Agitasi dan Propaganda dapat pula bersifat negatif bagi rakyat. Kita tahu dalam jaman Orde Baru semua rakyat dicekam rasa ketakutan, missal diwaktu Pemilu ada seseorang yang tidak ikut mencoblos (Golput) biasanya akan dituduh PKI, bukan Manusia Indonesia Seutuhnya, dll, atau distorsi yang terjadi bila kita melihat sebotol minuman mineral (VIT, ADES, dll) kita menyebutnya AQUA.
Bagaimana kita menghindari hal ini ? Sehingga Agitasi-Propaganda kita tidak membawa efek negatif seperti yang sudah disebutkan diatas. Sebagai sebuah organisasi Gerakan Revolusioner, maka harus dipertahankan dasar kenapa kita bergerak. Agitasi-Propaganda kita haruslah Revolusioner pula artinya perubahan yang terus-menerus kearah kemajuan bukan kemunduran, Agitasi-Propaganda kita tidak bersifat pembodohan tetapi ia mencerdaskan, menerangi, mengobori mata dan hati Rakyat !
Maka itu haruslah kita jaga prinsip-prinsip dibawah ini:
• Ilmiah
Agitasi-Propaganda kita hendaknya Objektif, yaitu memaparkan keadaan yang sesungguhnya benar-benar terjadi, berdasarkan bukti dan fakta yang nyata, bukan yang dibuat-buat atau dikarang.
• Berpihak kepada Rakyat
Berpihak disini artinya bukan secara membabi-buta, tetapi sudut memandang kita terhadap permasalahan haruslah dari sudut pandang RAKYAT, karena kita ingin menyelesaikan permasalahan yang selalu membuat rakyat itu tertindas, vox Populi, vox Dei (suara Rakyat adalah suara Tuhan)
• Intens / Laten
Dalam berpropaganda dan beragitasi hendaknya kita tidak mengharapkan hasil yang cepat saja, karena intensitas dalam hal ini adalah mutlak diperlukan, kesabaran dan keuletan kita dalam Agitasi-Propaganda akan mendapatkan hasil yang maksimum.
• Tersistimatis dan Terukur
Agitasi-Propaganda yang tersistimatis artinya kita harus melakukannya sesuai material yang ada, misalnya kita mau bilang kepada pak Tani bahwa harga pupuk naik lantaran Globalisasi, tak mungkin kita langsung dengan gamblangnya bicara tentang Globalisasi secara panjang-lebar dengan pak Tani tadi, untuk itu diperlukan langkah-langkah yang bertahap dalam menjelaskan hal tersebut sehingga pak Tani mengerti.
Terukur artinya, hasil-hasil yang telah dicapai dalam tiap tahapannya harus dapat di evaluasi sehingga dapat diambil keputusan untuk dinaikkan tingkatannya atau dipertahankan atau bahkan diturunkan, hal ini membutuhkan syrat bahwa kita harus benar-benar terintegrasi dan mengakar dikalangan massa.

III. Bentuk-bentuk Agitasi-Propaganda
Bentuk dari Agitasi-Propaganda dapat kita bagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Tulisan
Kelebihan dari Agitasi-Propaganda yang berbentuk tulisan adalah kita dapat menyampaikannya secara lebih detil, kelemahannya adalah masih banyak orang di Indonesia yang “ogah” membaca sebuah tulisan yang panjang apalagi ukuran hurufnya (fonts) kecil-kecil. Usahakan dalam menulis kita menentukan sasaran pembacanya, sehingga kita dapat menentukan tata-bahasa yang dipakai, bahasa yang biasa dipakai dikalangan mahasiswa kemungkinan besar tidak dapat dipakai di lingkungan Buruh atau KMK. Teori paling manjur adalah: “kalau anak kecil mengerti apa yang kita mau sampaikan dalam tulisan, maka seorang professorpun pasti juga mengerti”. Agitasi-Propaganda dalam bentuk tulisan yang biasa dipakai adalah: Selebaran, Koran, Buletin, Buku, dll
2. Lisan
Kelebihan bentuk ini adalah kita dapat langsung terkadang secara interaktif bertatap-muka dengan orang yang mau kita “agit”, untuk berpropaganda harus dilakukan berkali-kali secara intensif, kelemahannya adalah tergantung kemampuana seseorang dalam merangkai kata-kata yang tepat dan dapat ditangkap. Agitasi-Propaganda dalam bentuk lisan antara lain: Orasi, Pidato, siaran Radio, diskusi, obrolan person to person, dll
3. Visual
Dalam era Teknologi informasi yang menggila pada saat ini maka bentuk audio-visual (TV) mengambil peranan yang sangat besar dalam Agitasi-Propaganda, kelemahannya untuk media TV agar dapat ditangkap harus dilakukan dengan intesitas yang sangat tinggi, butuh kerja otak yang lebih kalau tanpa bantuan audio (suara), bentuknya baiasanya berupa: lukisan, hapenning art, Graffiti, dll

Tidak ada komentar: